Showing posts with label the urban mama. Show all posts
Showing posts with label the urban mama. Show all posts

Monday, 9 December 2013

Three Magic Words

As published at The Urban Mama :)

Saya ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang mempunyai karakter/manner yang baik. Menurut saya pencapaian akademis atau prestasi-prestasi adalah nomor dua. Jika anak saya mempunyai karakter dan manner yang baik, saya percaya hal-hal yang lain akan mengikuti.

Banyak sekali buku parenting yang beredar yang bisa membantu kita untuk mendidik anak. Tiap buku mempunyai teori yang berbeda-beda. Sampai saya pusing sendiri membacanya, karena terkadang teori-teori tersebut bertolak belakang antara satu buku dengan yang lain. Namun kemarin saat berbincang dengan teman saya, saya kembali diingatkan bahwa sebelum pusing akan banyak teori parenting, ada hal yang mendasar yang harus kita ajarkan kepada anak kita yaitu pentingnya “three magic words”.

Three magic words yang saya maksud di sini adalah:

1. Thank You/Terima kasih

Dalam kehidupan sehari-hari pasti setiap orang mau tidak mau menerima bantuan dari orang lain, baik hal-hal yang kecil atau besar.

Untuk setiap bantuan yang anak saya terima, saya dan suami mengajarinya untuk berterima kasih, dimulai dari hal kecil seperti diberi balon oleh pelayan restoran, atau saat pengasuhnya pamit untuk istirahat di malam hari atau diberi hadiah oleh oma opanya.

Saya dan suami mendorongnya untuk be generous in saying thank you. Kami mengajarkan bahwa tidak ada ruginya mengucapkan terima kasih, tetapi yang pasti akan membuat orang yang memberikan bantuan kepada kita merasa dihargai.

2. Please/Tolong
Pernah tidak para mama memperhatikan bahwa ada dua orang yang meminta hal yang sama tetapi yang satu diberi dan yang satu ditolak? Saya rasa salah satu alasan mengapa yang satu diberi adalah karena ia memintanya dengan sopan, tentunya dengan menyelipkan kata “please”. Penilaian orang terhadap kita pasti tidak luput dari subjektivitas, yang tentunya akan memilih orang yang mempunyai manner yang baik, tutur kata yang sopan dibanding orang yang kurang ajar atau kasar.

3. Sorry/Maaf
Semua manusia pasti tidak akan luput dari kesalahan. Saat anak saya membuat kesalahan, saya dan suami mencoba mengajarinya untuk mengakui bahwa mereka telah bersalah dengan cara meminta maaf. Tentunya kami sendiri juga tidak gengsi untuk meminta maaf kepadanya jika kami sendiri bersalah.

Saya dan suami sadar bahwa anak-anak adalah peniru ulung. Mengajarkan hal ini harus dimulai dari kami. Kalau kami sebagai orangtua tidak mengatakan three magic words, tentunya akan sangat sulit untuk anak saya mengerti akan pentingnya three magic words tersebut.

Para mama tentunya juga sedikit banyak pasti mengajarkan three magic words ini dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini mungkin terasa sepele, tapi besar pengaruhnya

Friday, 5 April 2013

Laser Retina Untuk Ibu Hamil Dengan Mata Minus Tinggi Yang Ingin Melahirkan Secara Normal

Judulnya panjang amat yak??
Moga2 post kali ini bermanfaat, gak kaya biasanya yang cuman cerita2 aja hehe
Bahasanya agak formal soalnya pengen disubmit articlenya hehehe
Update: Published di sini

Sewaktu hamil Faith dulu, saya mendengar bahwa agak rentan untuk ibu hamil dengan mata minus tinggi untuk melahirkan normal. Karena saya ingin melahirkan secara normal, saya lalu berkonsultasi kepada dr obygyn saya mengenai kondisi saya ini (kedua mata minus +/- 7 saat itu).

Dokter obygn saya agak terkejut mendengar minus mata saya yang cukup tinggi tersebut, karena setiap kali konsul saya selalu memakai soft lens. Beliau lalu merujuk saya ke dokter mata spesialis retina untuk diperiksa. Saya lalu membuat perjanjian di klinik mata untuk memeriksa retina mata saya.

Saat hari konsulnya, saya diminta untuk datang lebih pagi karena mata saya perlu ditetesi oleh tetes mata untuk membesarkan pupil mata saya sehingga bisa diperiksa keadaan retinanya. Tetes matanya agak perih, dan tidak lama mata saya agak buram-buram. Saya ditetesi lebih dari sekali karena saat dicek pupil mata saya belum membesar dengan sempurna. Menurut susternya, berapa banyak tetesan tergantung dari kondisi mata masing-masing orang.

Setelah pupil mata saya membesar (sekitar satu jam sejak pertama ditetesi), saya dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter.

Menurut dokter mata, ibu hamil dengan mata minus tinggi retinanya rentan untuk mengalami penipisan sehingga retina dapat mudah robek saat mengejan saat melahirkan (agak merinding saya mendengarnya). Tetapi tidak semua orang dengan minus tinggi pasti mengalami penipisan retina, oleh karena itu perlu dilakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut.

Saya lalu ditetesi obat tetes anestesi (yang sama perihnya dengan obat tetes yang tadi) dan disuruh menaruh dagu saya di alat ceknya, dan menempelkan kening saya di alat tersebut. Dokter mata lalu menempelkan semacam prisma di mata saya dan menyinari mata saya dengan sinar yang cukup menyilaukan. Saya lalu diinstruksikan untuk melihat ke bawah, ke samping, dst.

Proses pengecekan retina tidaklah sakit, hanya saja kurang menyenangkan, karena mata terasa sangat silau.  Setelah pengecekan, mata saya dibersihkan dengan tetes mata lagi (untung yang kali ini tidak perih), sampai mata saya tidak terasa lengket.

Menurut dokter, retina mata saya mengalami penipisan di kedua mata saya. Dan dia menyarankan untuk menjalani tindakan laser retina. Secara awam mungkin laser retina bisa dibilang seperti menyolder retina sehingga menempel dan tebal kembali. Laser retina berbeda dengan Lasix. Laser retina tidak membetulkan minus mata dan merupakan prosedur yang ringan. Orang yang ingin di-Lasix, jika matanya mengalami penipisan retina juga harus menjalani prosedur laser retina terlebih dahulu. Beliau juga mengatakan kalau saya tidak ingin melahirkan secara normal, ada baiknya saya tetap menjalankan laser retina karena kondisi penipisan retina mata saya yang rentan untuk robek sewaktu-waktu.

Mendengar penjalan dokter membuat saya langsung memutuskan untuk menjalani laser retina di minggu depannya.

Prosedurnya sama seperti pengecekan retina diatas, hanya saja sinar yang dipakai adalah sinar laser. Tidak ada persiapan/diet apapun sebelum menjalani laser retina. Laser retina sendiri hanya memakan waktu sekitar 30 menit dan saya bisa langsung pulang setelah itu. Setelah tindakan, mata saya terasa buram selama sekitar 3 jam-an, setelah itu saya bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Dokter hanya meresepkan tetes mata (yang untungnya tidak perih) untuk ditetesi sekitar 6 x sehari dan saya diminta kontrol sebulan kemudian.

Saya melahirkan Faith secara normal. Kini ia sudah berusia 2 tahun 2 bulan dan kami sedang menanti kelahiran anak kedua. Saya kembali memeriksakan retina mata saya, dan untungnya menurut dokter semuanya masih bagus.